Hakikat kodrati ibu, siapapun dan dimanapun, telah menjadikannya sosok yang tiada bandingannya. Bayangkan saja, sembilan bulan lamanya ia rela bersusah payah ‘menggendong’ buah hatinya kemanapun ia pergi. Makin hari bebannya pun makin berat. Belum lagi saat kelahiran si kecil, ibu rela mempertaruhkan nyawanya.Lalu selama dua tahun, ibu menyusuinya, mengasuh, membelai dan membimbingnya hingga ia bisa mandiri. Ibulah yang pertama-tama mengajarkan berbagai kosa kata, warna, mendendangkan lagu, membacakan cerita, dan sebagainya. Ibu adalah sosok pertama yang mengenalkannya pada Sang Khalik dan mendekatkannya pada lingkungan. Begitu besar amanah yang dipikul seorang ibu.

Pernah suatu ketika nabi Muhammad Saw bertanya kepada seorang laki-laki : ”Apakah Anda sangat ingin masuk surga? Surga yang sangat anda inginkan itu terletak di bawah kaki para ibu.” Dengan tegas Rasul Saw bersabda : “Aljannatu tahta aqdaamil ummahaati yang artinya surga itu terletak di bawah kaki ibu”. Kata-kata tersebut menjadi semboyan kemegahan kaum ibu.

Rasulullah Saw menunjukkan penghormatannya pada kaum ibu dan meninggikan kedudukan kaum ibu. Kisah kepahlawan seorang Ibu pun menjadi perhatian penting dalam tapak sejarah, seperti Al-Khansa yang sanggup memotivasi dan menghantarkan putra-putranya mati syahid atau Siti Masyithoh yang menerjemahkan kasih sayangnya dengan membawa putra-putranya “ikut” bersama menemui Khalik demi mempertahankan keimanannya.

Karena itulah Rasul Saw memerintahkan seluruh umatnya untuk menghormati wanita, sebagaimana sabdanya : Maa akramannisa a illa kariimu wa la ahaanahunna illa laiimun. Artinya, ‘Yang memuliakan wanita, hanyalah orang yang mulia, dan yang menghinakan wanita, hanyalah orang yang hina’. Dan Islam menempatkan kewajiban berbakti kepada ibu melebihi kewajiban berbakti terhadap ayah. Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab, “Ibumu.”Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Tanyanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, Ibumu” Kemudian tanyanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu.” (Muttafaq ‘alaih).

Permasalahannya adalah bagaimana agar anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang sholih yang bersikap baik pada orang tuanya, terutama ibunya dan menghormati kaum ibu. Inilah tanggung jawab kita.

Sekian sedikit gambaran yang kami berikan, salam dari kami warga ldii di tulungagung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *