Menjalin Ukhuwah, Merajut Kebersamaan

Menjalin Ukhuwah, Merajut Kebersamaan

Adab Berkunjung dan Bersilaturahim saat Lebaran Menurut Ajaran Islam

thumbnail

Momen perayaan Lebaran (Idulfitri) bukan sekadar ajang bersukaria, melainkan juga waktu yang istimewa untuk mempererat tali silaturahim dengan keluarga, tetangga dan sahabat. Dalam ajaran Islam, menjaga adab saat berkunjung sangatlah dianjurkan. Hal ini bertujuan agar momen saling mengunjungi tidak hanya menciptakan kehangatan, tetapi juga bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan.

Berikut adalah panduan adab bertamu saat Lebaran yang selaras dengan tuntunan syariat:

1. Meluruskan Niat yang Tulus
Niatkan kunjungan semata-mata untuk menyambung tali persaudaraan, bukan untuk mengamati kondisi rumah orang lain atau memamerkan harta dan pencapaian. Niat yang lurus dan tulus menjadikan silaturahim bernilai ibadah yang dijanjikan ganjaran besar berupa kelapangan rezeki dan umur yang berkah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
Artinya: “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.”
(H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

2. Mengucapkan Salam dan Meminta Izin
Ketika tiba di kediaman kerabat, etika pertama yang harus dipenuhi adalah meminta izin dan mengucapkan salam sebelum memasuki rumah. Hindari kebiasaan langsung masuk begitu saja. Al-Qur'an secara tegas mengatur batasan privasi ini agar kenyamanan tuan rumah tetap terjaga:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.”
(Q.S. An-Nur: 27)

3. Memilih Waktu Berkunjung yang Sopan
Bertamulah pada waktu yang wajar dan tidak menyulitkan tuan rumah. Hindari datang terlalu pagi hari atau larut malam. Apabila tuan rumah terlihat sedang sibuk beribadah (seperti salat), bekerja, atau beristirahat, sampaikanlah salam secukupnya atau undur diri dengan sopan agar tidak mengganggu.

4. Menyesuaikan Durasi Kunjungan
Kunjungan Lebaran sebaiknya dilakukan dalam durasi yang proporsional. Hindari bertamu terlalu lama hingga mengganggu aktivitas tuan rumah, namun jangan pula terlalu singkat atau terburu-buru. Durasi yang pas akan membuat ketulusan silaturahim lebih terasa dan bermakna.

5. Menjaga Sopan Santun saat Bertamu
Selama berada di rumah orang lain, jagalah etika dasar. Ucapkan salam, berjabat tangan, dan duduklah di tempat yang telah dipersilakan. Hindari sikap berlebihan seperti mengamati detail seisi rumah, mengajukan pertanyaan yang tidak perlu, atau melontarkan candaan yang menyinggung. Menjaga sikap sebagai tamu yang baik akan memudahkan tuan rumah dalam menjalankan kewajibannya untuk memuliakan tamu, sebagaimana anjuran Nabi:

Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

6. Menghindari Sikap Riya dan Pamer
Lebaran bukanlah ajang pembuktian status sosial. Saat berkunjung, hindari membicarakan atau membanding-bandingkan harta, rumah, maupun pekerjaan. Jangan jadikan momen kunjungan sebagai sarana untuk merasa lebih "hebat" dari kerabat yang lain.

7. Memberi dan Menerima dengan Ikhlas
Membawa buah tangan atau bingkisan ringan saat berkunjung sangat dianjurkan sebagai wujud kasih sayang. Di sisi lain, terimalah jamuan tuan rumah dengan penuh rasa syukur tanpa meminta atau menuntut hal yang tidak tersedia. Ulama Syamsuddin ar-Ramli mengklasifikasikan tingkatan silaturahmi menjadi tiga:
Tingkatan paling utama: Berkunjung seraya memberikan hadiah.
Tingkatan pertengahan: Sekadar berkunjung tanpa membawa hadiah.
Tingkatan paling rendah: Hanya menyampaikan salam dari kejauhan.

8. Mengutamakan Orang Tua dan Keluarga Inti
Dalam menyusun jadwal silaturahmi, dahulukanlah orang tua dan keluarga inti sebelum mengunjungi sahabat atau kerabat jauh. Pastikan interaksi berjalan harmonis tanpa memicu dendam atau perdebatan lama, sehingga esensi silaturahim benar-benar menyambung hubungan, bukan memutusnya.

9. Menjaga Etika Fisik dan Privasi
Ada adab fisik yang perlu diperhatikan saat mengetuk pintu kerabat. Jangan berdiri tepat menghadap pintu masuk yang terbuka, terutama jika di dalam rumah terdapat penghuni yang sedang tidak menutup aurat. Dilarang keras pula mengintip melalui celah jendela atau pintu, karena hal tersebut melanggar etika dan hak privasi rumah tangga.

10. Berpamitan dengan Sopan
Saat hendak mengakhiri kunjungan, mintalah izin untuk pulang secara baik-baik kepada tuan rumah. Ucapkan syukur dan terima kasih atas jamuan yang diberikan dan iringi langkah dengan permisi serta salam penutup yang tulus.

Mengamalkan adab-adab tersebut akan mengubah kunjungan Lebaran dari sekadar tradisi sosial menjadi ladang amal ibadah. Silaturahim yang dilandasi etika Islam akan menumbuhkan cinta, mempererat kasih sayang, serta menebarkan keberkahan di antara sesama.

Kategori : Artikel, Inspiring, Nasihat, Wawasan, Article, Ditulis pada : 21 Maret 2026, 00:14:56