Denpasar, 3 Januari 2026 – Kementerian Agama (Kemenag) RI memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 pada Sabtu (3/1) hari ini dengan semangat tema "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju". Peringatan ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Nomor 39 Tahun 2025 tentang Peringatan HAB ke-80 Kemenag RI Tahun 2026, yang menekankan peran umat beragama dalam membangun persatuan di tengah dinamika bangsa yang semakin kompleks.
Sejarah HAB Kemenag bermula sejak 3 Januari 1946, saat Kementerian Agama pertama kali dibentuk oleh UUD 1945 pasal 29 ayat 2 sebagai upaya negara menjamin kemerdekaan beragama. Pada masa awal kemerdekaan, Kemenag berperan krusial dalam mengelola urusan keagamaan, pendidikan agama, dan dakwah untuk memperkuat fondasi Pancasila. Kini, di usia ke-80, HAB menjadi momentum refleksi atas kontribusi Kemenag dalam membina kerukunan umat beragama, dari era reformasi hingga tantangan kontemporer seperti hoaks digital dan konflik sosial.
Tema "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju" sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah polarisasi politik pasca-pemilu, maraknya isu intoleransi di media sosial, serta pemulihan ekonomi pasca-pandemi, Indonesia menghadapi ujian persatuan. Data Kemenag mencatat peningkatan 15% kasus konflik horizontal berbasis agama pada 2025, sementara survei BPS menunjukkan indeks kepercayaan antarumat menurun di beberapa daerah. Namun, di balik itu, ada potensi besar dari keberagaman 1,3 juta masjid, ribuan gereja, pura, dan vihara yang bisa menjadi jembatan perdamaian.
Untuk menyikapi tantangan ini, Kemenag mengajak seluruh umat beragama menerapkan sinergi nyata. Pertama, melalui dialog antaragama rutin di tingkat desa, seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang telah menangani 80% potensi konflik di 2025. Kedua, pemanfaatan teknologi untuk dakwah digital inklusif, misalnya kampanye "Damai Digital" yang melibatkan tokoh agama di platform medsos. Ketiga, kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam program pendidikan karakter berbasis moderasi beragama, guna membentuk generasi muda yang toleran dan produktif.
Khusus bagi generasi muda sebagai penerus bangsa, Kemenag menekankan sikap proaktif: menjadi agen literasi digital untuk melawan hoaks dengan konten positif berbasis nilai agama, aktif berpartisipasi dalam relawan kerukunan seperti Gerakan Moderasi Beragama Muda, serta memimpin inisiatif kolaborasi antaragama di kampus dan komunitas online. "Generasi muda harus jadi pionir sinergi, bukan korban polarisasi," pesan Wakil Menteri Agama dalam sesi dialog pemuda HAB hari ini. Dengan begitu, mereka tak hanya menghadapi tantangan, tapi mengubahnya menjadi peluang kemajuan.
Menegaskan pentingnya pembangunan spiritual dalam sinergi umat, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto menyatakan, "Negara-negara yang sibuk membangun teknologi tapi mengabaikan dimensi spiritualnya akan kehilangan arah. Akibatnya, budi pekerti masyarakatnya rendah, meski maju secara materi. Mereka kehilangan kepedulian sosial, mementingkan diri sendiri, dan terjebak masalah seperti polarisasi, penyakit sosial, serta penurunan kualitas SDM akibat pengabaian nilai agama." Ia menambahkan, "Pengabaian religiusitas memicu praktik destruktif seperti intoleransi digital dan konflik horizontal, yang menghambat kemajuan bangsa. Sinergi umat beragama seperti tema HAB ke-80 adalah obatnya, agar Indonesia damai dan maju berkelanjutan."
Menteri Agama juga menegaskan dalam pidato virtual peringatan hari ini, “Sinergi umat bukan sekadar slogan, melainkan aksi konkret untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.”
Peringatan HAB ke-80 di seluruh Indonesia dirangkai dengan doa bersama lintas agama, seminar nasional, dan pembagian bantuan sosial ke 80.000 keluarga prasejahtera. LDII turut aktif mendukung melalui dialog umat lintas agama bertema HAB di berbagai daerah, melibatkan ribuan peserta untuk memperkuat dakwah moderat dan kerukunan. Dengan demikian, HAB ke-80 tak hanya nostalgia sejarah, melainkan panggilan aksi untuk umat rukun mewujudkan Indonesia damai dan maju.