Denpasar (30/8) – DPW LDII Bali menggelar pelatihan jurnalistik selama tiga hari, mulai 29-31 Agustus 2025. Acara yang digelar di Gedung Serbaguna DPW LDII Bali itu diikuti 60 peserta perwakilan dari DPD, PC, PAC se-Bali. Selain dari Bali, peserta juga datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mengangkat tema Membentuk Jurnalis Muda LDII Bali yang Menjunjung Nilai Kebangsaan dan Keberagaman Melalui Media Berintegritas, panitia menghadirkan lima pemateri dari DPP LDII. Pemateri memberikan pelatihan tentang cara menulis berita lempang, foto, video, hingga membuat konten di media sosial.
Ketua DPW LDII Bali, Drs. H. Olih Solihat Karso, M.Sn, mengatakan, pelatihan jurnalistik ini sangat penting di tengah era gempuran bermedia sosial. Dengan belajar jurnalistik dari para pakar, maka generasi muda LDII bisa produktif menyebarkan informasi yang bertanggungjawab.
Menurutnya, LDII Bali memilik banyak kegiatan positif yang harus diketahui masyarakat luas. Salah satunya adalah LDII ngejot atau berbagi untuk menjaga kerukunan antarumat beragama. Hal positif seperti itu harus ditularkan pada orang lain agar kerukunan selalu terjaga.
”Selain sebagai informasi, berita yang dibuat juga sebagai wahana edukasi. Karena itu, jurnalis LDII harus bisa membuat berita yang berkualitas dan bertanggungjawab,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP LDII Rulli Kuswahyudi mengingatkan derasnya informasi di era post-truth. Post-truth adalah sebuah fenomena sosial, di mana fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosional dan kepercayaan pribadi.
Dalam era ini, kebohongan dapat dengan mudah menyamar menjadi kebenaran karena masyarakat lebih fokus pada kecepatan penyebaran informasi dan dampak emosionalnya, bukan pada akurasi faktual. Karena itu banyak berita hoaks yang bisa menimbulkan kegaduhan. ”Melalui pelatihan ini, generasi muda LDII bisa menyebarkan informasi yang benar sesuai fakta, apa adanya. Bukan tentang siapa yang cepat menyebarkan informasi, tapi menyebarkan informasi yang tepat,” jelasnya.
Ia juga mengajak para peserta bijak bermedia sosial. Generasi muda LDII Bali bisa membuat berbagai konten menarik yang diambil dari kegiatan LDII.
”Begitu banyak kegiatan LDII Bali yang positif dan bermanfaat untuk masyarakat umum, sekarang bagaimana mengemas peristiwa itu menjadi menarik tanpa mengurangi substansinya,” tegasnya.
Mantan wartawan salah satu televise nasional itu mengungkapkan, jika melihat 20 tahun lalu, LDII tidak terlihat kiprahnya di media. Padahal, banyak kegiatan yang telah dilakukan. Menurut Rulli, saat ini eranya anak muda, mereka sangat familiar dengan media sosial. “Untuk itu, kami merangkul generasi muda untuk bisa beramal saleh dengan riang gembira melalui publikasi kegiatan LDII,” tandasnya.
Sementara Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana, menyinggung pentingnya 3K, yaitu Karya, Kontribusi dan Komunikasi. Melalui pemberitaan di media, jurnalis LDII Bali bisa mengomunikasikan kepada media maupun masyarakat tentang pengabdian LDII.
”Salah satu dakwah yang bisa kita lakukan adalah dakwah bil hal, yaitu berdakwah dengan perbuatan. Melalui pemberitaan, kita tunjukkan kalau LDII itu tidak pernah berhenti mengabdi berbuat baik untuk bangsa,” tegas pria yang sudah 20 tahun menjadi pewarta itu.