Menjalin Ukhuwah, Merajut Kebersamaan

Menjalin Ukhuwah, Merajut Kebersamaan

Tahu Diri

Kategori : LDII News, Nasehat, Ditulis pada : 31 Juli 2023, 11:07:11

Oleh: Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Malam itu saya pulang telat. Maklum, ada tamu yang harus ditemani makan malam. Selesai jamuan saya pun segera beranjak pulang. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Semilir penat mulai menggerayangi badan. Rasa kantuk, menurunnya adrenalin mulai terasa. Sesampai di gerbang masjid, seperti biasanya saya diantar, dua orang penjaga parkir segera keluar. Setelah dialog singkat, mereka mempersilakan saya untuk langsung pulang ke kos dan tidak boleh mengikuti acara pengajian akbar. Karena bukan haknya. Ini adalah kejadian nyata, betapapun saya menginginkan. Saya harus tahu diri.

Bagi orang seperti saya, mendengarkan nasehat seperti embun di pagi hari. Menyejukkan. Siapa pun yang menyampaikan. Plentis sekali pun. Setiap tutur kata yang meluncur tampak beryoni. Memasuki lubang pori dengan lembut dan gemulai. Menusuk. Halus. Seperti bidadari – bidadari yang turun dari kahyangan. Mengagumkan. Diiringi suasana yang syahdu. Nuansa yang indah. Karena sayap – sayap malaikat membentang menebar rahmat. Menaungi. Damai. Sunyi. Nyaman di kalbu. Tenteram di hati.

Sayang, yang seperti itu tak gampang didapatkan oleh orang – orang macam saya. Ketika datang kesempatannya, ternyata bukan haknya. Mundur teratur. Harapan pun tinggal pada ‘belas kasih’ para ulil amri untuk mau berbagi sebagaimana yang telah diterima mereka tadi. Kadang harapan pun tinggal harapan. Kerinduan terus meradang. Di sinilah saya terus memupuk ilmu tahu diri.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏ “‏من سلك طريقًا يبتغي فيه علمًا سهل الله له طريقًا إلى الجنة، وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما صنع، وإن العالم ليستغفر له من في السماوات والأرض حتى الحيتان في الماء، وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب، وإن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارًا ولا درهما وإنما ورثوا العلم‏.‏ فمن أخذه أخذ بحظ وافر‏”‏

Dari Abud-Darda ra. dia berkata; Rasulullah (ﷺ) bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan jalan Jannah baginya. Para malaikat menurunkan sayapnya di atas pencari ilmu, karena senang dengan apa yang dia lakukan. Penghuni langit dan bumi dan bahkan ikan di kedalaman lautan memohon ampunan untuknya.Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah yang saleh adalah seperti bulan purnama terhadap bintang-bintang lainnya (yaitu, dalam kecemerlangannya). Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi yang tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan hanya ilmu, dan siapa yang memperolehnya, sesungguhnya telah memperoleh bagian yang melimpah sempurna.” (HR Abu Daud)

Perlakuan seperti itu adalah sesuatu yang wajar, walau kadang ada juga yang tidak bisa menerima dan panjang buntutnya. Alhamdulillah hati ini bisa legawa. Dan tampak wajar karena ada tatanan yang mesti diikuti. Walau hati setengah mati merindukan nasehat, tapi karena bukan haknya apa mau dikata. Mencuri dengar, itu tak terpuji. Kepahaman memang harus dicari. Tak bisa berdiam diri. Apalagi dengan menyesali berkali-kali. Selalu berprasangka baiklah, bahwa pada waktunya semua akan terpenuhi. Tidak menyalahkan pihak-pihak yang terlibat, tapi tetap mensyukuri nikmat. Itulah ilmu tahu diri, yang membuat semua sesuai dengan porsi dan hakikinya.

Allah berjanji:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al Kitab, masa yang panjang mereka lalui (dengan kelalaian) sehingga hati mereka pun mengeras, dan banyak sekali di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al Hadid: 16)

Hal ini juga seiring dengan nasihat Kanjeng Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya nasihat; “Agama itu nasihat, bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, serta para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin pada umumnya.” Mudah – mudahan dengan dasar hadits ini semua jadi peduli.

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ أَنَّهُ قَالَ: اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.

Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dari ra., dari Rasûlullâh SAW bahwasanya Beliau SAW bersabda, “Agama itu nasihat. Agama itu nasihat. Agama itu nasihat.” Mereka bertanya, ‘Untuk siapa, wahai Rasûlullâh?’ Rasûlullâh SAW menjawab, ‘Untuk Allâh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum muslimin, dan bagi kaum muslimin pada umumnya.” (HR Muslim)

Bagi orang seperti saya bisa datang mengaji merupakan kebanggaan, seperti hujan di sore hari. Menyegarkan. Tatkala seharian panas terik menerjang, dihapus dengan dinginnya hujan ayat quran. Kitab Allah yang dibaca sungguh menambah gemetar hati ini. Rasa takut pun mengemuka. Rasa kuatir semakin menjadi. Tenggelam dalam sejuk keimanan. Dan ketika diberi makna terasa terbuka ceruk mata ini, betapa sombongnya hamba ini. Yang berlama – lama tak datang ke tempat yang agung ini. Lupa dan terlupakan. Padahal janji lebih baik dari dunia dan seisinya menanti. Apa sebenarnya yang kau cari? Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)

Bagi orang seperti saya ketika mengkaji sebuah hadits adalah kesenangan tak terperi, seperti terbitnya matahari. Sempurna. Siap menyinari. Selalu ditunggu – tunggu. Selalu dinanti. Awal sebuah hari yang penuh dengan harapan baru dan semangat baru. Qur’an, hadits, nasehat. Quran, hadits, nasehat. Selalu begitu. Tak terpisahkan. Ketika hilang salah satunya terasa timpang. Aneh. Sungguh. Bayangkan setiap mengkaji satu bab dari hadits, seumpama sholat 1.000 rekaat sunnah. Menjadi dambaan hati untuk bisa meraihnya. Tapi, kapan?

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ، وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ، عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ»

Dari Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku: “Hai Abu Dzar, engkau pergi di waktu pagi lalu mempelajari satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak seratus raka’at. Dan engkau pergi di waktu pagi untuk mempelajari satu bab ilmu, kemudian diamalkan ataupun tidak diamalkan, lebih baik dari pada engkau shalat sebanyak seribu raka’at.” (HR Ibnu Majah)

Menimbang situasi semacam ini, saya berharap kedermawanan dari semuanya untuk mau berbagi. Mungkin banyak orang yang mengalami kejadian seperti yang saya alami. Atau bahkan lebih lagi. Kehausan akan nasehat dan kerinduan yang dalam akan pengajian. Menemukan kembali barang yang hilang. Dan itulah semangat yang mendorong saya untuk terus menulis, tak lain adalah dalam rangka berbagi. Tak lebih. Tak kurang. Sebab dengan begini, Allah pasti akan memberi jalannya. Sedikit demi sedikit Allah pun akan menggerakkan hati para sedulur semua untuk mau berbagi yang bermanfaat dan barokah seperti kiat – kiat ibadah, kisah-kisah indah, penggalan-penggalan nasihat yang saat ini menjadi barang langka bagi diri ini. Adakah kerinduan ini terobati? Terutama bagi mereka yang sedang berkecimpung mendalami ilmu tahu diri. Dalam rangka mencari barang yang hilang tadi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا ‏”

Dari Abu Hurairah dia berkata, bersabda Rasulullah SAW; “Al-Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mukmin, maka di mana saja ia dapati, dia adalah orang yang paling berhak terhadapnya.” (Riwayat Tirmizi).

The post Tahu Diri appeared first on Lembaga Dakwah Islam Indonesia.


Sumber berita : https://ldii.or.id/tahu-diri/

built with : https://erahajj.co.id